Tuesday, June 21, 2016

Pengunjung Festival Danau Sentani Lebih Banyak Sore Hari

Oleh : Engelbert Wally.

Peserta tarian pada Festival Danau Sentani (FDS) IX di Khalkote, Distrik Sentani Timur – Jubi/Engel Wally
Peserta tarian pada Festival Danau Sentani (FDS) IX di Khalkote, Distrik Sentani Timur – Jubi/Engel Wally
Sentani,  – Pengunjung Festival Danau Sentani (FDS) ke-9 di Khalkote, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua tahun ini ternyata lebih banyak pada sore hari. 

Menurut salah satu penjaga stan di lokasi FDS, Irma, pengunjung lebih mengantre sore hari karena pagi hingga tengah hari warga melakukan aktivitasnya di kantor-kantor, sekolah, dan lembaga-lembaga swasta.
“Nanti sore hari baru pengunjungnya banyak yang datang ke tempat ini (lokasi FDS). Biasanya pagi masyarakat melakukan aktivitas, baik di kantor atau karena puasa, ditambah cuaca yang panas sehingga pengunjung lebih memilih sore hari,” katanya kepada Jubi di Khalkote, Selasa (21/6/2016).

Sejumlah lomba digelar, seperti lomba dayung tradisional dan tari pergaulan yosim pancar (yospan).
Menurut dia pengunjung tampak antusias meski lebih padat sore menjelang petang.
Salah satu pengunjung, Nick Daniel mengaku pelaksanaan FDS cukup baik untuk promosi budaya dan konten lokal.
“Namanya festival budaya, siapa saja dan dari mana saja orang tersebut pasti akan datang untuk menyaksikan secara langsung. Untuk FDS IX ini hanya butuh sentuhan banyak pihak di dalamnya,” katanya.
Menurut dia sebaiknya tidak hanya Pemerintah Kabupaten Jayapura yang berpartisipasi, tetapi juga semua pihak harus berpartisipasi di dalamnya.

Bupati: FDS Adalah Harga Diri dan Momen Promosi Budaya

Bupati Jayapura Matius Awoitau mengatakan pelaksanaan FDS kali ini merupakan bagian dari pertaruhan harga diri masyarakat Sentani dan Kabupaten Jayapura pada umumnya.
“Dari waktu ke waktu hal ini tetap menjadi perhatian serius Pemerintah Daerah, tentunya tidak terlepas dari kekurangan. Untuk melaksanakan even sebesar ini butuh kesiapan dan dana yang tidak sedikit. Tetapi sampai tahun ini pelaksanaannya tetap dilaksanakan dengan apa yang ada di daerah ini,” katanya. 

Ia juga mengatakan bahwa FDS sebagai momen untuk mempromosikan budaya dan potensi lokal di kabupaten yang dipimpinnya itu.
“Kita tidak bisa memberikan penilaian yang sama terhadap penyelenggaraan FDS di tempat ini dengan iven budaya di tempat lain. Dulu waktu tidak ada FDS semua mempertanyakannya, sekarang sudah ada kenapa harus bersungut-sungut?” katanya. 

Ia melanjutkan setidaknya FDS harus didukung, sebab kegiatan itu tidak hanya milik Pemerintah Kabupaten Jayapura, tetapi seluruh masyarakat “Khena Mbay Umbay”.
“Harga diri kita dipertaruhkan di momen ini,” katanya. 

Pengunjung FDS, Agus Supriyanto mengatakan, “Pertama kali saya mendengar tentang FDS ini di TV dan berita-berita di media cetak dan elektronik waktu masih kuliah di luar Papua. Ada harapan bagi saya agar dapat mengunjungi tempat ini untuk menyaksikan secara langsung pelaksanaannya.”

Menurut pengunjung yang berprofesi sebagai apoteker ini banyak perubahan yang terjadi pada FDS tiga tahun terakhir. Meski demikian, menurut dia harus ditonjolkan potensi-potensi lokal pada ajang pesta budaya semacam FDS.
“Seperti pertama kali saya di sini ada tifa terpanjang, penari terbanyak, tetapi juga ada sampai terbesar di Kampung Abar dan semuanya masuk dalam rekor MURI. Hal-hal seperti ini yang perlu diangkat dalam beraneka ragam dan corak budaya,” katanya. (tabloidjubi.com)



Post a Comment