Monday, June 27, 2016

Menulis Sejarah dan Identitas Bangsa Papua

Oleh: I Ngurah Suryawan.
I Ngurah Suryawan (Dok SP).

Gerakan menulis sejarah “baru” bagi rakyat Papua sangat mendesak untuk dilakukan. Salah satu alasan pentingnya adalah perlunya dengan “memahami dan menafsirkan” diri sendiri untuk menata ulang kehidupan sebagai sebuah bangsa ke depannya. Hal ini sangat urgen mengingat bahwa kebangkitan menulis sejarah baru dijiwai oleh berbagai motif yang secara keseluruhan menyangkut persoalan identitas dan ekspresi kedaulatan diri sendiri. Penegakan identitas —yang meskipun akan selalu problematik— dan ekspresi kedaulatan inilah yang terkekang selama rezim kekuasaan otoritarian Orde Baru dan berlanjut hingga kini di Tanah Papua. Warisan pengekangan itulah yang melahirkan lapisan-lapisan ingatan sejarah yang tersimpan dalam keseharian kehidupan rakyat Papua.

Giay (2000) secara tajam dan gamblang menyatakan bahwa menulis kembali sejarah bangsa Papua adalah persoalan menulis identitas dan jati diri bangsa ini. Perjalanan bangsa ini dalam pergumulannya dengan berbagai pihak melahirkan berbagai pengalaman baik dan juga pedih. Dengan menulis kembali sejarahnya, rakyat Papua akan merenungi dan merefleksikan kembali perjalanan dirinya hingga menjadi seperti sekarang ini. Nah, dengan kesadaran demikianlah rakyat Papua akan menuntun dirinya untuk bersikap di masa depan.

Selama rezim otoritarian berkuasa di Indonesia —dan diwariskan hingga sekarang— terakumulasi pengetahuan di tengah masyarakat Indonesia bahwa berbagai gerakan pengungkapan ekspresi sosial politik dan keberbedaan pandangan sejarah adalah separatis dan melawan keutuhan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Dengan propaganda itulah, sejarah dan identitas Papua menjadi tersingkir dan tidak mendapatkan rekognisi (pengakuan) yang pantas di dalam Negara Indonesia. Yang justru terjadi adalah diskriminasi dan “kesalahan pemahaman” dalam berbagai program-program pembangunan yang berniat untuk “memberadabkan” dan mensejahterakan Papua.

Kini, diberlakukannya Otonomi Khusus (Otsus) juga terbukti telah gagal dan ditolak oleh rakyat Papua dan mengembalikannya ke Jakarta. Otsus sebenarnya memberikan peluang kepada rakyat Papua untuk mengaktualisasikan dirinya dalam penulisan sejarah dan pengungkapan “kebenaran” terkait dengan berbagai tragedi-tragedi kekerasan yang terjadi selama ini di Tanah Papua. Otsus bukan hanya berkaitan dengan persoalan uang dalam pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat, namun juga yang lebih abstrak menyangkut kebebasan berekspresi dan menunjukkan diri dalam identitas kultural Papua. Kajian-kajian kritis yang menyangkut “kebenaran” sejarah kekerasan dan kebudayaan Papua dan perumusan langkah-langkah desiminasi di tengah masyarakat Papua yang heterogen dan terfragmentasi menjadi sangat penting.

Dokumen Itu di Papua
Subyek penulisan sejarah baru itu adalah rakyat Papua sendiri yang berada di Tanah Papua. Pengalaman dan kesaksian mereka terhadap setiap momen-momen penting di Tanah Papua ini sangatlah penting untuk didokumentasikan. Tidak cukup hanya mendokumentasikan, kesaksian dan pengetahuan mereka adalah sumber untuk menjiwai pencarian identitas rakyat Papua dalam perjalanan sejarah selama ini. Di tangan subyek-subyek pelaku sejarah itulah jejak-jejak masa lalu dari bagaimana bangunan rakyat Papua tercipta. Sisi personal kesaksian mereka sangatlah berarti untuk mengimbangi narasi sejarah yang dikontruksi oleh negara ini yang penuh dengan tipu daya dan kebohongan.

Konstruksi sejarah yang dirancang negara secara sadar dan sengaja menyingkirkan narasi sejarah dari rakyat kecil. Yang menjadi “pemenang” adalah narasi yang diungkapkan oleh para elit Indonesia maupun para elit Papua (yang dipilih oleh elit Indonesia). Oleh sebab itulah diperlukan “sejarah alternatif” yang emansipatoris dengan tujuan untuk merekognisi identitas rakyat Papua yang disingkirkan secara sadar dan sengaja tersebut. Satu-satunya cara adalah dengan menjadikan menulis sejarah kritis sebagai gerakan sosial di tengah masyarakat.

Gerakan menulis sejarah baru bagi rakyat Papua ini bukan saja menjadi hak milik bagi orang Papua, tetapi terbuka luas bagi sejarawan ataupun ilmuwan, pelaku sejarah dan seluruh komponen masyarakat. Syaratnya sudah tentu adalah perspektif yang kritis dan emansipatoris serta memberikan ruang kepada sumber-sumber sejarah yang berada di Tanah Papua untuk menuturkan kesaksian sejarahnya. Dalam konteks yang terjadi di Papua, sangat penting artinya dokumen sejarah yang mengangkat pengalaman dan kejadian masa lampau amat penting untuk merekonstruksi —menyusun kembali— sejarah bangsa Papua menuju Papua Baru. Kerena pengalaman lampau sangat menentukan pemahaman diri orang Papua sekarang, dan masa depannya sebagai suatu bangsa. Sehingga usaha untuk mencari dokumen sejarah mejadi suatu agenda prioritas.

Khusus bagi penulisan kembali sejarah orang Papua, dokumen-dokumen historis ada di dalam pengalaman sejarah dan pemahaman diri bangsa Papua yang dipengaruhi oleh rangkaian peristiwa sejarah yang terjadi di tanahnya sendiri. Orang Papua yang telah mengikuti perjalanan sejarah sejak zaman Belanda  bangsa Papua hingga sekarang di bawah pemerintahan RI adalah sumber dan saksi-saksi sejarah yang dapat dipercaya. Kita tidak perlu mencari dokumen sejarah di mana-mana. Dokumen sejarah dari luar negeri, kita butuhkan tetapi hanya sebatas melengkapi. Bukan sebagai dokumen utama.

Dokumen yang mendasari pelurusan sejarah bangsa Papua menuju Papua Baru itu harus dicari di Papua karena pertama para pelaku dan koraban dari sejarah Papua yang ingin diluruskan itu adalah rakyat kecil —bangsa Papua— yang ada di Tanah Papua. Kedua, orang Papua ini mempunyai pengalaman sejarah yang tidak pernah ditulis dan tidak pernah mendapat wadah, yang telah membentuk karakter dan pemahaman diri orang Papua dewasa ini. Pemahaman ini perlu dimiliki oleh orang Papua yang ingin meluruskan sejarahnya. Sehingga dengan sikap dan pandangan ini, kita akan menghindari kesan bahwa orang Ppaua tidak ada pengalaman sejarah —yang itu tidak mungkin— dan oleh karena itu harus meminta bantuan orang lain atau pihak Barat untuk melegetimasi pengalaman dan pemahaman sejarah (Giay, 2000: 1-2).
Memoria Passionis adalah sebuah gerakan ideologis dan intelektual untuk menyelami sejarah sunyi bangsa Papua.

Pemahaman sejarah dan dokumen sejarah menuju Papua Baru, tidak terlepas dari memoria passionis; pengalaman sejarah penderitaan orang Papua yang mengalami penindasan yang berat, sejak Tanah Papua dimasukkan ke dalam Negara Republik Indonesia. Penderitaan ini teristimewa lantaran kejadian-kejadian yang berkaitan dengan pembunuhan dan pelanggaran hak-hak dasar orang Papua. Dalam catatannya, Giay (2000:3-6) mengungkapkan bahwa keberbedaan menjadi sumber utama dari identtas Papua dan Indonesia. Dalam pemahaman diri orang Papua, orang Papua itu ya orang Papua. Orang Papua tidak akan pernah di-Indonesia-kan. Karena orang Papua siapapun dia, selalu berpandangan bahwa orang Indonesia itu lain dari orang Papua. Pemahaman ini tercermin dari pengalaman-pengalaman kecil yang menunjukkan pandangan akan keberbedaan itu.

Salah satu ekspresi serta representasi yang menjiwai penulisan sejarah baru rakyat Papua ini adalah resistensinya terhadap konstruksi yang dibuat oleh negara. Resistensi inilah yang berimplikasi kepada perlawanan terhadap konstruksi sejarah yang dibentuk oleh negara. Resistensi yang kuat akan terbentuk melalui serangkaian kesaksian dan narasi-narasi yang dituturkan oleh rakyat Papua yang mempunyai pengalaman getir berhubungan dengan negara. Salah satu pengalaman getir tersebut, yang menjadi ingatan sosial dan terwarisi kepada generasi Papua selanjutnya adalah kekerasan dan penderitaan.

Namun sejarah kontemporer yang terjadi di Papua penuh dengan fragmentasi (keterpecahan) di tengah masyarakat juga menjadi tantangan tersendiri dalam penulisan sejarah ini. Seperti halnya identitas etnik di Tanah Papua yang heterogen dan penuh dengan kompleksitas, begitu juga yang terjadi dalam gerakan penulisan sejarah baru rakyat Papua ini. Kompleksitas yang dimaksudkan adalah begitu banyaknya lapis-lapisan di tengah masyarakat Papua dengan berbagai posisi dan kepentingannya masing-masing. Oleh sebab itulah membayangkan satu Papua (Pan Papua) adalah kemustahilan. Apa itu Papua atau ke-Papua-an hingga kini masih dalam perdebatan dan penuh dengan kompleksitas.

Gerakan menulis sejarah baru menghadapi tantangan untuk memberikan jiwa kepada identitas Papua yang masih dalam pembentukan dan dinamika terus-menerus. Namun, sesuatu yang menjadi catatan penting adalah bahwa gerakan ini sangat urgen karena dokumen sejarah itu adalah rakyat Papua yang berada di Tanah Papua. Kesaksian mereka sangatlah penting artinya. Hal lainnya adalah bahwa pengalaman kekerasan dan penderitaan adalah satu poin yang tidak akan bisa dilepaskan dari gerakan penulisan sejarah baru rakyat Papua. Kemungkinan salah satu identitas dari penulisan sejarah baru rakyat Papua adalah pengalaman penderitaan akibat ulah negara. Dan oleh sebab itulah salah satu representasi ke-Papua-an adalah perlawanan dari ke-Indonesia-an.

Penulis adalah staf Pendidik di Jurusan Antropologi Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat. Menulis buku Mencari Sang Kejora: Fragmen-Fragmen Etnografi (2015).



SUmber : www.suarapapua.com

Saturday, June 25, 2016

Prediksi Argentina vs Chile 27 Juni 2016, Jadwal Siaran Langsung Final Copa America Centenario Senin Ini di Kompas TV


Bola, -Laga ulangan final Copa America tahun lalu akan kembali tersaji dalam  Copa America Centenario tahun ini  ketika sang juara bertahan Chile akan melawan Argentina di MetLife Stadium pada Senin (27/6/2016) pukul 07.00 WIB Live di Kompas TV.

Ini adalah laga ulangan final setahun lalu dimana sang tuan rumah Chile berhasil menjadi juara pertama kalinya dengan mengalahkan Argentina di babak adu penalti.

Namun kali ini Argentina  asuhan Gerardo Martino terlihat benar-benar tak terbendung saat ini, dan itu tidak mengherankan bahwa mereka diprediksi banyak orang untuk mengangkat Copa America  pertama kalinya sejak 1993 . Albiceleste memenangkan tiga pertandingan, mencetak sepuluh gol dan hanya kebobolan satu. Ini termasuk kemenangan atas Chile di laga pembuka juga, yang akan memberi mereka sedikit dorongan psikologis dalam final kali ini.

Messi cs menghancurkan Venezuela 4-1 di babak perempat final sebelum melakukan hal yang sama ke negara tuan rumah USA di semi-final. Satu-satunya hal negatif disemi final adalah cederanya Lavezzi yang jatuh ke atas papan iklan dan melukai lengannya, yang berarti dia sekarang diragukan tampil untuk final.

Setelah kalah dilaga perdana lawan Argentina, Chile yang diasuh mantan pemain Madrid Juan Pizzi bangkit dengan keren untuk lolos ke final Copa America mereka dalam dua kali berturut-turut. Sang juara bertahan bangkit kembali dengan kemenangan 2-1 melawan Bolivia dan menang 4-2 melawan Panama untuk mengirim mereka lolos ke babak sistem gugur.

Permainan mengerikan mereka terjadi kala membantai Meksiko yang sebenarnya sedang on fire dengan mencukur mereka 7-0. Lalu dilanjutkan ke babak semi final melawan Kolombia, dimana sudah unggul dua gol dalam waktu 15 menit babak pertama  berkat  Charles Aranguiz dan Jose Fuenzalida. Dalam laga itu sempat tertunda jelang babak kedua karena cuaca buruk.

Dalam 5 head to head terakhir Argentina meraih 4 kemenangan atas Chile, namun La Roja yang menang sekali menang dalam laga krusial dalam final tahun lalu .

Dalam laga ini Argentina tanpa Di Maria yang cedera plus Lavezzi , so Messi dan Higuain yang tengah on fire didepan akan ditemani Gaitan atau Aguero, sementara Banega kembali bisa bermain setelah mendapat satu laga hukuman dimana ditengah akan ditemani Masche dan Biglia.

Kubu Chile mungkin tanpa duo gelandang Diaz dan Pablo Hernandez yang cedera, namun sang bintang Vidal kembali bermain setelah absen di semifinal dimana akan menjadi jendral lapangan tengah   bersama Orollela, sementara didepan Pinilla akan ditemani Sanchez dan topskor turnamen Vargas.

Prediksi laga , kali ini kami prediksi Messi akhirnya akan merengkuh gelar perdana bersama timnas dengan kemenangan dua gol tim Tango atas La Roja.

Prediksi Line Up Argentina vs Chile :

Argentina : Romero, Rojo, Funes Mori, Ottamendi, Mercado, Mascherano, Biglia, Banega, , Messi, Higuain, Gaitan

Chile : Bravo, Mena, Jara, Medel, Isla, Diaz, Vidal, Orellana, Sanchez, Vargas, Pinilla.

Rekor pertemuan kedua Tim dalam pertemuan terakhir sebagai berikut :
07.06.16 Argentina 2 : 1 Chile
25.03.16 Chile 1 : 2 Argentina
05.07.15 Chile 1 : 0 Argentina
17.10.12 Chile 1 : 2 Argentina
08.10.11 Argentina 4 : 1 Chile

Dari lima hasil pertandingan Terakhir yang sudah di mainkan oleh Argentina :
22.06.16 USA 0 : 4 Argentina
19.06.16 Argentina 4 : 1 Venezuela
15.06.16 Argentina 3 : 0 Bolivia
11.06.16 Argentina 5 : 0 Panama
07.06.16 Argentina 2 : 1 Chile

Dari lima hasil pertandingan Terakhir yang sudah di mainkan oleh Chile :
23.06.16 Colombia 0 : 2 Chile
19.06.16 Mexico 0 : 7 Chile
15.06.16 Chile 4 : 2 Panama
11.06.16 Chile 2 : 1 Bolivia
07.06.16 Argentina 2 : 1 Chile


Sumber : kabarbola.co.id 

Wednesday, June 22, 2016

Dewan HAM PBB Menyoroti Kebebasan Berekspresi di Tanah Papua

OLeh : Yuliana Lantipo.

Sebuah pertemuan Dewan HAM PBB di Jenewa - AFP
Sebuah pertemuan Dewan HAM PBB di Jenewa – AFP.

Jayapura,  – Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa menyoroti masalah hak-hak masyarakat sipil di tanah Papua (Propinsi Papua dan Papua Barat) di Jenewa dalam beberapa hari terakhir.
Selama sesi ke-32 Dewan Pleno, Pelapor Khusus PBB tentang hak atas kebebasan berkumpul secara damai dan berserikat, Maina Kiai, memusatkan perhatian pada Papua.
Mengacu pada perjuangan orang Papua dengan perubahan demografi dan sosial-ekonomi yang pesat di ujung timur Indonesia ini, Maina Kiai berbicara tentang dominasi budaya tertentu, bahasa dan tradisi yang makin meningkat sebagai kelompok yang superior dari orang lain.
Kiai mengatakan apa yang terjadi di Papua adalah sebuah fenomena yang berhubungan dengan fundamentalisme budaya dan nasionalisme yang terlihat dari dunia luar.
“Dalam setiap kasus, keunggulan telah memicu proses dehumanisasi atau menjadi tidak sah dari kelompok-kelompok tertentu,” kata Kiai dalam laporannya seperti dikutip dariRadio New Zealand, Kamis (23/6/2016).
“Secara bertahap, kelompok ini akan kehilangan kemanusiaan dan hak-hak mereka. Proses ini dapat mengakibatkan konsekuensi yang menghancurkan, karena sejarah telah membuktikannya berkali-kali,” ucapnya.
A large peaceful demonstration in Jayapura in support of the United Liberation Movement for West Papua. - Tabloid Jubi
A large peaceful demonstration in Jayapura in support of the United Liberation Movement for West Papua. – Tabloid Jubi
Sejumlah kelompok masyarakat sipil menghadiri pleno untuk mengungkapkan keprihatinan mereka tentang pembatasan kebebasan berekspresi di Papua.
Mereka mendesak pemerintah Indonesia untuk membuka akses di Papua bagi masyarakat internasional.
Koordinator Program Internasional Fransiskan Asia Pasifik, Budi Cahyono, mengatakan kepada JUBI bahwa masyarakat sipil meminta Dewan HAM PBB untuk menekan pemerintah Indonesia di Jakarta untuk menetapkan tanggal bagi Pelapor Khusus PBB tentang Kebebasan Berekspresi untuk mengunjungi Papua.
Kelompok masyarakat sipil lainnya yang hadir meliputi kelompok World Council of Churches, VIVAT Internasional, Koalisi Internasional untuk Papua Barat, Papua Barat Nezwerk, Tapol, dan Hak Kelompok Minoritas Internasional dan Jenewa untuk Hak Asasi Manusia.
Mereka mendesak Dewan HAM PBB meminta pemerintah Indonesia untuk melakukan penyelidikan atas penangkapan sewenang-wenang di Papua dan daerah lainnya, dan untuk menjamin hak-hak kebebasan berekspresi, dan kebebasan berkumpul dan berserikat bagi orang Papua. (tablidjubi.com)

DPRP Minta Polsek Japsel Dengar Keluhan Keluarga Alm. Rojit

Oleh : Abeth You.

Saat menggelar reka ulang kematian Alm. Roberth Jitmau di TKP Ring Road Hamadi, Kota Jayapura, Selasa (22/06/2016) - Jubi/Abeth You
Saat menggelar reka ulang kematian Alm. Roberth Jitmau di TKP Ring Road Hamadi, Kota Jayapura, Selasa (22/06/2016) – Jubi/Abeth You.
Jayapura,  – Walaupun telah melakukan reka ulang terhadapan kematian tokoh ekonomi kerakyatan Papua, Roberth Jitmau alias Rojit, namun sejumlah pihak mengganggap bahwa hal itu masih saja dangkal dan tak wajar.  Pasalnya jika disimpulkan bahwa kematiannya itu adalah kecelakaan lalu lintas (Lakalantas) murni.
Hal itu ditegaskan anggota Komisi I DPR Papua bidang pemerintah, politik, hukum dan ham, Laurenzus Kadepa, bahwa pihak kepolisian hendaknya mendegarkan dulu apa keluhan dari keluarga korban.
“Itu karena keluarga korban dari Alm. Rojit masih mengganggap rekonstruksi atau reka ulang di TKP atas kematian Rojit itu penuh rekayasa. Hal itu keluarga korban sudah sampaikan,” kata Laurenzus Kadepa kepada Jubi di Jayapura, Rabu (22/06/2016).
Agar menjadi beres, Diharapkan Kadepa, agar pihak Kepolisian Sektor Jayapura Selatan (Polsek Japsel) dan Polresta Jayapura untuk tidak lagi memaksakan namun berikanlah kebebasan dengan benar kepada para saksi dan keluarga korban.
Ia menegaskan, inti penyelesaian masalah merupakan pihak kepolisian harus benar-benar menangani dengan serius. “Bukan berarti kami tidak hargai atau ragukan perjuangan dari kepolisian. Tapi, utamanya reka ulang itu masih dangkal sekali,” jelasnya.
“Terus terang saja, keluarga korban masih keberatan dengan reka ulang yang dilakukan itu,” katanya.
Solidaritas Pedagang Pasar (Solpap) dan pihak keluarga Robert Jitmau tidak puas dalam gelar rekonstruksi oleh Kepolisian sektor Entrop terhadap dugaan pembunuhan Robert Jitmau, di Ring Road Hamadi, Selasa siang (21/6/2016).
Rekonstruksi yang dimulai sekitar pukul 10.30 itu sejak awal telah dipadati Mama Mama Pasar Jayapura dan pihak keluarga yang hadir untuk melihat langsung reka peristiwa kematian Robert Jitmau, aktivis Solpap yang kemungkinan tewas karena ditabrak pada 20 Mei 2016 lalu.
Reka peristiwa dibuka oleh Kapolsek Entrop Jayapura Selatan, Kompol Heru Hidayanto. Tampak hadir ayah kandung Robert Jitmau, Bapak Semuel Jitmau dan keluarga, dan tim pengacara yang yang menjadi kuasa hukum kasus kematian aktivis pejuang pasar Mama Mama Jayapura itu.
Mama Yuliana Pigai merasa bingung terhadap adegan rekonstruksi. Menurut dia “ini tidak serius, dong bikin adegan seperti anak kecil, tidak masuk akal.”
Ayah korban, Semuel Jitmau, yang mulai duduk menjauh dipenghujung reka persitiwa. “Kalau dong mau tabrak, ketiganya pasti kena. Apalagi yang mabuk itu (tersangka) kan tidak tahu bawa mobil. Kalau tancap gas semua bisa bisa mati, dan semua kaki badan akanluka parah, darah dimana-mana. Tapi ini jelas ada luka seperti tusuk di dekat mata Rojit,” ujarnya pelan. (tablloidjubi.com)

Legislator Kritik Kinerja Badan Penghubung Papua Di Jakarta

Oleh : Arjuna Pademme.
Legislator Papua, Wilhelmus Pigai - Jubi/Doc
Legislator Papua, Wilhelmus Pigai – Jubi/Doc.
Jayapura,  – Legislator Papua, Wilhelmus Pigai mengkritik kinerja pihak-pihak yang ditempatkan di Kantor Badan Penghubung Pemprov Papua di Jakarta.
Anggota Komisi I DPR Papua bidang Pemerintahan, Politik, Hukum dan HAM itu mengatakan, hingga kini masih banyak pihak-pihak di Jakarta baik di kementerian, birokrat, politisi hingga pihak swasta yang tak tahu jika di Papua berlaku Undang-Undang Otonomi Khusus (Otsus)
“Itu artinya UU Otsus Papua belum tersosialisasi dengan baik di tingkat kementerian di Jakarta. Jika ada yang tahu, itupun hanya sebagai kecil orang. Sepertinya pihak kantor penghubung atau perwakilan Pemprov Papua di Jakarta selama ini kurang melakukan sosialisasi,” kata Wilhelmus Pigai, Rabu (22/6/2016).
Menurutnya, keberadaan Kantor Penghubung Provinsi Papua di Jakarta tak hanya mengurus administrasi, namun juga ada tugas lain termasuk sosialisasi dan melakukan pendekatan untuk kepada berbagai pihak terutama kementerian guna memperjuangkan kepentingan Papua.
“Bukan hanya mengatur jadwal kedatangan gubernur ke Jakarta atau lainnya. Saya minta gubenur menertibkan peranan  Kantor Badan Penghubung Perwakilan  Provinsi Papua di Jakarta agar lebih efektif  dan terlihat fungsi keberadaannya di Jakarta,” ucapnya.
Katanya, tujuan Kantor Penghubung Provinsi Papua di Jakarta untuk membawa kepentingan Papua. Termasuk mensosialisasikan Perdasi/Perdasus Provinsi Papua yang merupakan turunan UU Otsus dengan melibatkan kementerian. Jika tidak, sebaiknya kantor itu tak perlu ada.
“Ini agar mereka tahu, Papua beda dengan daerah lain. Kalau banyak pihak di Jakarta tak tahu Papua memiliki Otsus, karena kurang sosialisasi. Itu memang bukan tugas utama mereka yang ada di kantor penghubung, tapi mereka punya kewajiban sebagai salah satu perangkat pemerintahaan Provinsi Papua di Jakarta,” katanya.
Terpisah legislator Papua lainnya, Emus Gwijangge mengatakan, semua dinas dan badan yang ada dilingkup Pemprov Papua bertugas untuk membantu Gubenur dan Wakil Gubernur Papua melaksanakan sistem pemerintahan.
“Termasuk kantor Penghubung Provinsi Papua di Jakarta. Meski itu bukan tugas utama, namun mereka yang ditempat di kantor itu harus mensosialisasikan Perdasi/Perdasus dan aturan lain yang diberlakukan di Papua agar pihak yang ada di Jakarta tahu,” kata Emus. (mp/tabloidjubi.com)