Tuesday, July 19, 2016

Langit Jogja Pun Menangis Saat Kawan Mahasiswa Papua Dilempar Gas Air Mata

 Oleh : Fajar Nurmanto.


Mobil Water Cannon yang dipakai Polisis Tembak Gas Air Mata ke arah Mahasiswa Papua sedang Standby di depan Asrama mahasiswa Papua Yogyakarta. Dok Yikwagwe.
Yogyakarta, - Yogyakarta baru-baru ini mencekam. Bukan karena ada peperangan, tetapi disebabkan kehadiran puluhan aparat kepolisian bersenjata bersama ormas-ormas. Mereka berjaga di depan asrama mahasiswa Papua Jalan Kusumanegara. Tanggal 15 Juli 2016 sekitar pukul sembilan pagi, sempat menyaksikan sendiri ditutupnya sebagian Jalan Kusumanegara yang berada di depan Asrama Papua. Siangnya, jalan sudah dibuka kembali untuk lalu lintas.

Malam hari itu juga, mendapat kabar pelemparan gas air mata yang dilakukan pihak berwajib ke dalam asrama. Mendengar itu, sekilas teringat cerita-cerita usaha mahasiswa yang mendapat perlakuan sama atau sampai lebih parah hilang tanpa jejak sewaktu orde baru. Namun tak lupa waktu itu para mahasiswa melakukan aksi demonstrasi untuk keterbukaan rezim pemerintahan.

Lalu apakah sekarang para kawan mahasiswa Papua melakukan hal yang sama hingga harus menerima perlakuan kasar dari aparat?

Berdasarkan kronologis yang diunggah di Blog Lingkar Studi Sosialis, tindakan represif sudah dimulai semenjak dikirimnya ancaman dari pihak anonim pada Kamis, 14 Juli 2016. Ancaman tersebut berisi hujatan dan perkataan-perkataan yang melecehkan, seolah kawan Papua bukanlah manusia Indonesia.

Kawan Papua dikatai “hitam bangsat”, “kafir laknatullah”, “keturunan monyet”, dan banyak lagi kata-kata yang menyiratkan bahwa kawan Papua tidak pantas hidup di Jogja.

Apakah hati mereka yang hendak mengusir dengan umpatan tidak pantas itu adalah ciri penduduk Jogja yang berhati nyaman?

Pada hari Jumat kemudian, semenjak jam tujuh pagi, pintu depan asrama telah diblokir aparat kepolisian berikut pintu belakang. Diikuti kedatangan ormas Paksi Katon sebanyak 50 orang. Paksi Katon adalah forum kemitraan polisi dan masyarakat. Namun apakah mereka menengahi agar terjadi dialog baik-baik? Tidak. Bahkan sempat ada seorang warga Papua yang hendak masuk asrama, namun sepeda motornya disita polisi.

Ketika satu kawan Papua tersebut meminta sepeda motornya kembali, polisi melepaskan tembakan peringatan. Ia melarikan diri melewati lorong menuju Jalan Kusumanegara yang ternyata berikutnya ditangkap oleh polisi dengan brutal hingga kawan Papua diinjak-injak.

Apakah ini sikap yang diperbolehkan? Ketika pengayom masyarakat justru malah melakukan tindakan kasar terhadap kawan Papua yang notabene adalah warga negara Indonesia yang sedang tidak berdaya. Ada apa dengan aparat polisi yang terhormat?

Kejadian berlanjut dengan sampai pada pukul sebelas kurang ketika masa ormas berseragam Paksi Katon, Pemuda Pancasila, Laskar Jogja, dan Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan & TNI POLRI datang.
Ada sekitar 100 orang dan mereka meneriaki asrama dari depan. Teriakannya tak terduga, karena nama penduduk kebun binatang yang malah diucapkan dengan keras. Mulai dari “anjing”, “babi”, “monyet”, dan sebagainya berkumpul mengisi presensi.

lanjutkan membaca >

Sumber : http://jogjastudent.com
Post a Comment