Monday, July 18, 2016

Saya Tak Bisa Membayangkan Jogja Tanpa Mahasiswa

Ilustrasi tempat nongkrong mahasiswa jogja

Asrama Mahasiswa Papua di jalan Kusumanegara dikepung ratusan polisi dan anggota ormas, Jumat 15/7 lalu. Jalan di depan asrama ditutup, arus lalu-lintas dialihkan. Berita itu sedikit dimuat atau disiarkan media massa tetapi ramai di media sosial. Tentu saja apa yang pro dan kontra terhadap penanganan aksi damai oleh polisi yang melibatkan ormas tersebut. Dalam tayangan di Youtube, anggota ormas itu memaki-maki dari luar  pagar dengan aneka macam cacian misalnya separatis, monyet, anjing dan lain-lain.
Namun di media sosial juga tak kalah serunya kritik terhadap polisi Jogja tersebut. Ada akun Facebook menulis: Perlakuan tak manusiawi polisi Jogja mengepung sepanjang hari asrama mahasiswa Papua merupakan kado pahit buat Kapolri baru yang mantan Kapolda Papua. Gimana polri mau profesional, menangani aksi damai musti ajak ormas anarkis dan rasis? Gimana polri junjung HAM kalau mobil PMI yg bawa bantuan logistik untuk mahasiswa malah diusir. Menangani aksi mahasiswa kok seolah mau perang. Katanya kota budaya lha kok polisi dan ormasnya begitu? Mana Gubernur DIY?

Soal tuduhan separatis oleh ormas di Jogja dengan tulisan di spanduk ditanggapi para netizen dengan mengunggah foto-foto lama saat di Jogja ramai menolak RUU Keistimewaan versi Jakarta. Foto-foto yang diunggah itu antara lain paspor Ngayogyakarto Hadiningrat, uang ala Jogja Merdeka, Ngayogyokarto Airline, tentara Jogja Merdeka dan kartu identitas Jogja Merdeka.

Saat aksi damai mahasiswa di Asrama Mahasiswa Papua tersebut, di Jogja suasana liburan Idul Fitri 2016 menjelang usai. Jogja kian kembali normal. Tidak macet. Jogja kembali menjadi kota pendidikan. Keramaian wisata kini tinggal di beberapa lokasi seperti Malioboro, Kraton, Tugu,  dan Prawirotaman. Hotel dan penginapan tak lagi penuh sesak. Penginapan atau resor seperti Rumah Mertua, Omah Bude, Rumah Kakak, Omah Eyang, Omah Lawas, Omah Dusun, kembali normal, termasuk harganya.

Namun, tahukan Anda, sesungguhnya, bagi Jogja, wisatawan sejati adalah para mahasiswa yang memilih studi di kota pendidikan itu. Mereka datang bergelombang, setidaknya 300 ribu pertahun dan mengisi kampus-kampus di kota ini. Para mahasiswa tak tinggal di hotel dan selama seminggu makan di restoran bermerek. Mereka tinggal berbaur di kost-kost sekitar kampus atau asrama mahasiswa daerah (kini mulai marak apartemen mahasiswa). Mereka inilah yang menghidupi kampus, kost, angkringan, kafe, karaoke, londri, fotokopi, toko buku dan usaha kecil lainnya.

Koordinator Kopertis V Kemenristekdikti, Dr Bambang Supriyadi mengungkapkan selama 2009 hingga 2014, jumlah mahasiswa di PTS di DIY selalu bertambah. Berdasar data dari Forlap Dikti di 2009, jumlah mahasiswa PTS di DIY sebanyak 170.540 orang. Sementara pada 2014, jumlahnya menjadi 222.155 orang. “Jadi memang jumlah mahasiswa bertambah banyak. Banyak PTS yang animo pendaftarnya meningkat pesat. Misalnya UTY yang dulu mahasiswa barunya hanya 1.300, sekarang sudah 3.000. Di UST dulu sekitar 1.100, sekarang 1.900 orang,” ujar Bambang.  (Tribun Jogja 4/3/2016).

Sebagai kota yang dijadikan tujuan calon mahasiswa, Yogyakarta memiliki 136 unit perguruan tinggi yang memiliki beberapa kategori diantaranya akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut,  dan universitas. Jumlah perguruan tinggi yang cukup banyak ini berbanding lurus dengan kuota yang disediakan masing-masing perguruan tinggi.

Masa tinggal mahasiswa di Jogja tak sesingkat wisatawan biasa yang maksimal seminggu. Para mahasiswa tinggal di kota ini minimal empat tahun sampai tujuh tahun. Kalau mahasiswa tergolong MA (mahasiswa abadi), Mapala (mahasiswa paling lama) atau mahasisa, masa tinggalnya jauh lebih lama. Merekalah yang, meminjam slogan koran “Kedaulatan Rakyat” migunani tumraping liyan (berguna bagi orang lain).

Di Jogja, beberapa kawasan tumbuh dan berkembang (secara bisnis) setelah ada kampus berdiri di situ. Kawasan Pogung, Sagan, Demangan, dan Gejayan hidup karena ada UGM, UNY dan Sanata Dharma. Kawasan Babarsari hidup karena ada Universitas Atmajaya dan UPN. Kawasan jalan Kaliurang KM 20 kini bergairah karena ada Universitas Islam Indonesia (UII). Juga kawasan yang kini paling seksi, Seturan, karena ada beberapa kampus di situ.

Pada akhir studi di Jogja, para wisatawan mahasiswa ini diwisuda di kampus masing-masing. Ada yang setahun dua kali (seperti STPMD “APMD”) ada juga yang setahun wisuda empat kali. Setiap wisudawan akan membawa serta dua orang tua dan calon suami/istri dan keluarga lainnya. Mereka juga butuh kendaraan, penginapan, kuliner, foto studio, sedikit jalan-jalan sampai perlu ke salon rias segala.

Jadi jelas sudah, sebagai kota pendidikan dan wisata, sesungguhnya wisatawan sejati adalah para mahasiswa. Dan, sekali lagi, saya tak bisa membayangkan Jogja tanpa mahasiswa….


Post a Comment